Tanya Jawab Hukum Perkawinan (asiamaya.com)

Soal ujian lagi..

    1. 1. Saya adalah seorang pegawai dari suatu perusahaan swasta yang telah bekerja. Saya pria beristri dengan 1 anak dan beragama islam, saya ingin menikah lagi secara islam dengan wanita single beragama islam. Menurut undang-2 perkawinan hal tersebut tidak dapat dilakukan, tetapi menurut teman hal tersebut dapat dilakukan dengan cara membuat KTP didaerah dengan status single.Yang ingin saya tanyakan apabila saya menikah dengan cara tersebut adalah : 1. Bagaimana status hukumnya baik perdata maupun agama ? 2. Bagaimana pembagian harta warisan apabila saya meninggal ? (Jawaban)
    2. 2. Saya berwarganegara Malaysia dan beristerikan warganegara Indonesia. Hidup kami aman dan damai sejak kami bernikah di Jakarta secara sah mengikut undang undang negara Indonesia. Selepas perkawinan, saya pulang ke Kuala Lumpur bersama isteri saya.Kami saling mencintai dan mengasihi rumah-tangga kami. Sekarang isteri saya telah dipaksa pulang ke Indonesia oleh keluarganya dan sekarang isteri saya sudah ada di Jakarta dan keluarga nya telah mengurungnya dirumah dan tidak benarkan dia keluar atau hubungi suaminya di Malaysia. Pertanyaan saya: 1. Apakah mertua saya (keluarga isteri) berhak untuk paksa isteri saya pulang ke Indonesia dengan alasan saya telah berlaku kezaliman kepada isteri saya.? 2. Bolehkah mertua saya (keluarga isteri) memaksa supaya isteri saya bercerai dengan saya, walaupun isteri saya tidak mau ? 3. Dari segi undang undang Indonesia, siapa yang berhak ke atas paspor? Sebab paspor isteri saya telah di simpan oleh bapaknya dan difahamkan paspornya telah dibatalkan supaya isteri saya tidak boleh keluar negara Indonesia lagi. 4. Bolehkah isteri mohon paspor baru dengan alasan paspor asalnya telah disimpan oleh bapak nya atau paspor asalnya telah hilang? Sekian saja. Harap dapat membantu saya.(Jawaban)
    3. 3. Saya WNI yang mempunyai hubungan dengan warga negara asing. Saya mempunyai beberapa kesulitan tentang pengertian mengenai hukum – hukum di Indonesia mengenai UU perkawinan dan UU kewarganegaraan. Saya mempunyai beberapa pertanyaan mengenai hal-hal tersebut. 1. Saya beragama Islam dan partner beragama Hindu. Bolehkah kami menikah secara resmi di Indonesia? 2. Bila saya punya anak dari hasil perkawinan tersebut, apakah dia dapat hak-haknya sebagai WNI? 3. Apakah partner akan mendapat kewarganegaraan Indonesia bila kami menikah di Indonesia? Saya sangat membutuhkan keterangan ini karena saya ingin membawa partner saya ke Indonesia untuk melangsungkan perkawinan ini. Sementara ini saya tinggal Di NZ untuk study. Saya sangat mengharapkan pertolongan saudari dalam hal ini. Terima kasih atas bantuan saudari. Saya akan tetap memeluk agama saya sebagai muslim dan dia Hindu. Bisakah kami menikah tanpa dipaksa untuk memeluk agama satu sama lainnya?(Jawaban)
    4. 4. Kami ingin mengajukan pertanyaan apakah akta perkawinan yang hilang dapat diurus duplikasinya mengingat pentingnya surat ini. Apabila dapat diurus kemana kami harus mengurus dan apakah ada jasa yang dapat membantu kami?Terima kasih atas bantuannya.(Jawaban)
    5. 5. Saya seorang lajang berusia 28 thn, memiliki orang tua dan saudara tiga (keluarga Batak). Kakak saya perempuan pernah menikah secara resmi di Gereja, dan menghasilkan seorang anak (Kini berusia 10 tahun). Kemudian karena orang tua suami kakak saya, akhirnya mereka berpisah/dipisahkan untuk dikawinkan dengan wanita pilihan orang tuanya. Tetapi tanpa pernah resmi bercerai ke pengadilan. saat itu si anak baru lahir..(atau usia perkawinan sekitar 12 bulan) Saat ini anak itu (sebut Dama), diasuh dan dibesarkan oleh orang tua saya. Dan perlu saya ceritakan bahwa sejak kepergian Bapaknya sampai saat ini, Bapaknya tidak pernah lagi melihat anaknya…pun dari pihak keluarganya. 1. Bagaimana kekuatan hukum kami atas “pemilikan” anak itu, karena dia mewarisi MARGA bapaknya. 2. Dapatkan anak ini menjadi “milik” saya/kami seutuhnya, tanpa digugat hak kami atas anak itu. Seumpamanya dari pihak Bapaknya menuntut hak atas anak itu.3. Masih berhakkah Bapaknya atas anak itu 4. Bagaimana konsekwensinya, karena saat ini dia saya programkan ke asuransi pendidikan?(Jawaban)
    6. 6. Dalam waktu dekat ini saya berencana untuk menikah. Usia saya 16 tahun dan calon suami saya 25 tahun, kami telah siap untuk menikah tetapi orang tua saya menyarankan untuk menunda rencana tersebut karena menganggap usia saya terlalu muda untuk menikah. Saya ingin mengetahui, berapakah usia minimal perkawinan?(Jawaban)
    7. 7. Menurut informasi yang saya dengar bahwa hukum di indonesia tidak memungkinkan untuk melaksanakan hukum antaragama (islam dan kristen). benarkah demikian? seandainya sepasang lelaki dan perempuan yang berbeda agama ingin melangsungkan pernikahan, bagaimana caranya, apakah bisa dilakukan di indonesia atau harus pergi ke luar negeri. Apakah perkawinan beda agama dapat dilakukan melalui nikah siri? mohon penjelasan. terima kasih.(Jawaban)
    8. 8. Hi, I’m a Swiss male and have been in Indonesia for several times. During my last visit, I met a wonderful Indonesian lady, and we have discussed getting married. I would now like to know whether I could settle in Indonesia. I would even like to become an Indonesian citizen. What would I have to do?(Jawaban)
    9. 9. saya seorang perempuan berumur 25 tahun. Lima tahun lalu, saya nikah sama suami saya di bawah tangan. Pada saat itu, orang tua saya tidak mau setujuh dengan perkawinan saya dengan Purnama, suami saya. Kami sudah punyah dua orang anak, berumur 2 dan 4. Suami saya sekarang mau tinggalkan saya. Bagaimana tentang hak saya.(Jawaban)
    10. 10. Bagaimanakah definisi pisah ranjang. Apakah isteri bisa menggugat dengan alasan sudah tidak sayang dan sudah tidak ada komunikasi lagi sampai kami pisah ranjang. Apakah masalah anak bisa dijadikan alasan untuk menggugat, selain itu isteri menggugat dengan alasan suami meninggalkan isteri dalam keadaaan sakit lahir batin ? Bagaimana bila saya tidak hadir lagi dalam sidang ? Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih.(Jawaban)
    11. 11. Pada tahun 1994 terjadi pernikahan beda agama dengan melalui catatan sipil. Karena saat ini salah satu pihak menyadari kesalahan tsb ( dari sisi agama ), maka dia ingin mengakhiri perkawinan yang telah berlangsung tersebut. Bisakah perbedaan agama itu dijadikan alasan untuk mengajukan gugatan cerai ?(Jawaban)
    12. 12. Saya seorang wanita bekerja beragama Islam, telah menikah selama 2 tahun lebih dan mempunyai seorang anak di bawah umur. Saya bermaksud melakukan gugat cerai ataupun talak kepada suami saya. Kami tidak pernah melakukan hubungan suami istri lagi sejak 2 tahun yang lalu dan sering terjadi pertengkaran. Suami saya belum pernah melukai jasmani saya, tetapi sudah beberapa kali ia melempar saya dengan benda-benda ringan dan berkinginan memukul/menampar saya. Suami saya tidak pernah memberikan uang kepada saya setiap bulan karena saya juga bekerja. Keperluan saya pribadi (pakaian, jajan, dsb) dipenuhi oleh saya sendiri. Namun keperluan rumah tangga seperti belanja bulanan, gaji pembantu, keperluan anak, kadang dibayar oleh saya kadang oleh suami, tergantung siapa saat itu yang memiliki uang cash. Awalnya saya ingin melakukan perceraian secara baik-baik, tetapi suami saya mengancam antara lain mau membunuh saya, tidak mau menceraikan saya dan akan membuat saya menderita dan kalau pun proses perceraian terjadi ia akan merebut hak atas anak saya. Berdasarkan research yang saya lakukan saya ketahui bahwa menurut UU, perceraian dapat terjadi karena alasan-alasan berikut: a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabok; pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan; b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah karena hal lain di luar kemampuannya; c. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung. d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain; e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/isteri; f. Antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga. g. suami melanggar taklik-talak; h. peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidakrukunan dalam rumah tangga. Pertanyaan saya: 1. Dari kasus saya dapatkan saya menggugat cerai atau talak berdasarkan UU/hukum dan kuatkah alasan saya? Apakah ada kemungkinan gugatan saya ditolak jika seandainya suami saya benar-benar tidak mau menceraikan saya? 2. Dapatkah saya memperoleh hak atas anak saya, dalam arti anak ikut saya setelah perceraian? Dan sebesar apa chance saya?(Jawaban)
    13. 13. Saya adalah pria usia 35 thn dan sudah menikah 12 tahun dengan 2 orang anak. Pernikahan saya tidak ada surat Catatan Sipil, hanya ada surat dari gereja. Sudah 1 tahun terakhir saya pisah dengan istri dan tidak pernah tinggal serumah lagi. 1. Apakah surat nikah dari gereja punya kekuatan hukum di pengadilan ? 2. Apakah bila saya menikah lagi dengan gadis lain dan ingin membuat Catatan Sipil dapat dilakukan ? Syaratnya ? 3. Haruskah saya membuat surat cerai di Catatan Sipil sementara saya tidak pernah membuat surat nikah di Catatan Sipil ? 4. Kemanakah saya harus meminta bantuan untuk pembuatan surat Catatan Sipil seperti pada point 2 ?(Jawaban)
    14. 14. 1.Bagaimana menurut hukum utk tatacara perceraian yg pernikahannya dilaksanakan tercatat laki2 dan wanita secara islam di KUA, kemudian karena istrinya pindah agama sang suami ingin bercerai. Lalu bagaimana status/kedudukan anaknya dengan adanya perceraian tsb. Setahu saya menurut islam agama anak ikut ayahnya. Pendidikan agama menjadi tanggung jawab siapa? 2.Bisakah dilaksanakan pernikahan kedua tanpa persetujuan istri pertama secara sah menurut hukum (menikah diam2).(Jawaban)
    15. 15. Bagaimana tata cara utk mengajukan gugat cerai menurut UU Perkawinan No. 1 thn 1974 pasal 40 ayat 2? Seandainya gugatan yang diajukan gugur / ditolak, apakah alasan yg sama masih bisa dipakai sebagai gugatan berikutnya?(Jawaban)
    16. 16. Saya digugat cerai oleh istri, karena saya juga tidak tahan terhadap perlakuan dan kemauan istri yang demikian keras selama persidangan saya selalu membantah semua tuduhannya dan memang tidak ada bukti dan saksi. Tetapi saya meminta hakim untuk mengabulkan permintaannya walaupun semua tuduhan tidak benar. Tetapi dalam keputusan semua tuduhan dibenarkan oleh hakim dan saya dianggap sudah mengakui semua tuduhannya. Sekarang saya mengajukan Banding untuk membantah semua tuduhan itu dan secara tidak langsung saya tolak keputusan tersebut. Apakah saya dapat melakukan hal itu ? Kemudian selama proses banding bagaimana status hukum saya dengan istri ? Apabila dalam proses banding ini saya menemukan istri saya tidur satu ranjang dengan penasehat hukumnya dengan pakaian yang tidak sopan dengan disaksikan oleh dua orang saksi, apakah saya bisa melakukan pengaduan dengan dalil perzinahan, dan berapa lama waktu kadaluwarsa pengaduan itu. Ataukah saya hanya melaporkan si penasehat hukumnya saja.(Jawaban)

      Belum menikah malah harus menjawab persoalan tentang menikah gawat nih… met menikmati soal soalnya..

      About these ads

      23 comments

      1. aku mau tanya yah, calon suamiku seorg duda
        berusia 29thn dan dia sudah pisah dgn istrinya
        tetapi dulu mereka kawin tidak memakai surat
        catatan sipil hanya pake surat gereja..saya udah
        coba bertanya ke dinas catatan sipil dan katanya
        calon suamiku hrs buat surat pernyataan dari gereja menerangkan bahwa kalo calon suamiku itu sudah cerai dari istri pertamanya,tapi yg mau saya tanyakan adalah jika gereja tidak bisa menerbitkan surat pernyataan tersebut apakah calon suami saya bisa menikah lagi?
        lalu apakah calon suami saya harus membuat surat cerai padahal dia tidak mempunyai surat nikah?
        apakah si ex istrinya bisa menuntut calon suamiku macam2 karena anak2 calon suamiku dipegang oleh mamanya?

        need ur answer,thx

      2. perlu di jelaskan secara detail mengenai perkawinan, dan bagai mana jika perkawinan melalui ?dengan hubungan melalui internet atau telepon?

      3. Saya mau tanya apakah ada dalam hukum Perkawinana Islam larangan bagi mertua yg memaksa cerai anaknya karena tidak sependapat dengan menantu, jika tidak ada bagaimana caranya hukum Perkawinan Islam mencegah adanya pembuatan surat cerai palsu!!! apakah bisa hak asuh anak diambil oleh suami karena sang istri tidak dapat menolak paksaan cerai dari sang mertua di karenakan usia nya dibawah 23 tahun

      4. calon suami saya beragama budha dan pernah
        menikah diKUA dgn perempuan beragama islam,
        skrg ini sudah pisah selam 4thn tanpa cerai.
        Apakah dia bisa menikah lagi dgn saya & bagaimana
        caranya?tolng berikan saya solusinya…

      5. calon suami saya beragama budha dan pernah
        menikah diKUA dgn perempuan beragama islam.
        Skrg ini dia sdh pisah selama 4thn tapi tanpa
        surat cerai.Apakah dia bisa menikah lg dgn saya,
        bagaimana caranya?Saya ingin menikah secara resmi
        dgn dia secara budha,apakah bisa?tolong berikan
        saya solusinya,thx

      6. Sy perempuan 23 thn single skrg sdg mnjln hub.dgn WNA Cina yg sudah menikah,yg saya tanyakan bisakah menikah tanpa harus ada surat cerai?apa yg hrs kami lakukan spy bs menikah?

      7. saya pria 28 tahun beragama islam, dan saat ini saya berniat untuk menikahi seorang perempuan sebut saja “wuri” 27 tahun. kondisinya saat ini wuri sudah pernah menikah dengan seorang polisi dan mempunyai satu orang anak yang berusia 6 tahun, pernikahan mereka terjadi karena MBA (married by Accident), lalu setelah menikah mereka dikembalikan kepada kedua orang tua masing-masing tanpa melalui proses perceraian. kemudian setelah beberapa bulan mereka sepakat untuk menikah ulang dengan alasan “supaya tercatat dikantornya” (itu menurut pengakuan si suami yang seorang anggota Polisi). namun tak berapa lama si suami pergi menghilang meninggalkan wuri yang hingga saat ini telah berlangsung selama 2 tahun lamanya, dan selama 2 tahun itu pula wuri tidak sekalipun menerima nafkah lahir bathin. wuri pernah beberapa kali menghubungi si suami meminta agar diceraikan, namun alasan yang diterima wuri selalu mendapat jawaban “iya sedang di urus” dari si suami.
        yang menjadi pertanyaan saya adalah :
        1. proses hukum apa saja yang harus wuri jalani agar bisa cerai dengan suaminya itu ?
        2. bagaimana status hak asuh anak nantinya ?
        3. sejauh apa saya harus terlibat dalam proses hukum ini ? mengingat wuri masih berstatus istri orang lain.
        karena saya buta tentang hukum, maka saya mohon bantuan dari teman2 siapapun yang bisa memberikan solusi hukum buat saya.

      8. halo saya mahasiswa…. saya cuma mau tanya.

        1. bagaimana cara orang luar ( swiss )kalo mau nikah sama orang indonesia ?
        2. apakah betul kalo orang dari negara lain mau nikah dengan orang indonesia harus mendaftarkan dulu ke dubesnya ?
        3. apa benar apa bila orang tersebut kalo tidak jadi menikah untuk pencabutan daftar nikahnya agak lama ? dan apa bila lama, berapa lama prosesnya ?

      9. suami duda memiliki ank laki kristen kira kira 10thn,selama kami menikah selalu di ganggu materi oleh mantannya dengan alasan ank padahal mreka kristen dan kami muslim. saya tidak tahan dengan kehidupan pernikahan kami dan saya meminta suami memilih saya atau anknya kristen yang katanya tidak dapat dipisahkan. apakah hukum islam menyalahkan saya dan dosa apabila saya mengalah mengakhiri pernikahan dengan suami saya dan kami punya ank perempuan umur 1 thn dan apa hukumnya menafkahi anak kristen.

      10. Apakah saya bisa menuntut secara hukum kepada istri saya atau pemberi pekerjaan kepada istri saya apabila :
        1.Saya tidak memberikan ijin kepada istri saya menerima pekerjaan dari orang lain,krn pekerjaan tersebut saya anggap melanggar norma2 kesopanan dan tidak baik menurut saya.
        2.Saya tidak memnerikan ijin kepada pemberi pekerjaan untuk memberikan pekerjaan terhadap istri saya.
        3.Pasal-pasal mana saja yang dapat menuntut pemberi pekerjaan?

      11. yg ingin saya tanyakan adalah, apakah permohonan dispensasi kawin itu hanya dapat diajukan kepada pengadilan saja? apa ada pejabat lain yang berwenang?kalo ada siapa yg dimaksud, sesuai dengan ketentuan bunyi pasal 7 ayat (2) UU perkawinan, yg pada pokoknya menyebutkan bahwa permohonan dispensasi kawin dapat diajukan kepada pengadilan atau pejabat lain yg ditunjuk oleh orangtua. Mohon penjelasan dan bantuannya….
        terimakasih

      12. Saya mau tanya..saya dan pacar saya pacarannya udah setahun lebih dan kami berniat untuk menikah tapi yg menjadi kendala disini dia seorang anggota polri dan muslim sedangkan saya kristen..yang menjadi pertanyaan saya bisakah pacar saya seorang anggota polri muslim pindah ke kristen dan gimana caranya? trus jika kami mau nikah secara beda agama gimana caranya sedangkan dia anggota polri kira-kira syarat apa yg harus di penuhi..

        mohon bantuannya yah

        terima kasih

      13. sy mau tnya ne.3 thn lalu sy sudah menikah dgn suami sy,tp prnikahan km blm d catat d catatn sipil..krn ada masalh dikit skrg ne km harus pura2 membuat surat cerai palsu.tp itu cm untuk buat spya suami sy bs bebas dr masalah.krn apabila ketahuan sy masih berhubungan sm suami sy, suami sy akan kena masalah.bgmn hukumnya apabila membuat surat cerai palsu,tp sbnarnya blm ada talak..?apakah surat cerai palsu itu sah?apakah km harus nikah lg?..

      14. aya adalah pria usia dan sudah menikah 5 tahun yg lalu dan mempunyai 2 orang anak. Pernikahan saya tidak ada surat Catatan Sipil, hanya ada surat dari gereja. Sudah 2 tahun terakhir saya pisah dengan istri dan tidak pernah tinggal serumah lagi. 1. Apakah surat nikah dari gereja punya kekuatan hukum di pengadilan ? 2. Apakah bila saya menikah lagi dengan gadis lain dan ingin membuat Catatan Sipil dapat dilakukan ? Syaratnya ? 3. Haruskah saya membuat surat cerai di Catatan Sipil sementara saya tidak pernah membuat surat nikah di Catatan Sipil ? 4. Kemanakah saya harus meminta bantuan untuk pembuatan surat Catatan Sipil seperti pada point 2 ?(Jawaban)

      15. saya juga dari FH UGM Mas. Memang sangat sedikit mhsw FH UGM mendapat nilai A utk mata kuliah yg diajarkan oleh Eyang Prof. Sudkno, M. dan mata-mata kuliah lain yg diajarkan oleh Yg Terpelajar Sudikno M. Tapi saya menadapat “NILAI A SEMUA” utk mata kuliah yg diajar Beliau termasuk “Mengenal Hukum”. Jadi kalo mas dapet C, bukan buku yg salah tapi Mas yg tidak mengerti buku “Mengenal Hukum” itu sendiri. Kalo Mas tidak mengerti isi buku bagaimana mau menjawab dengan benar pertanyaan-pertanyaan yg diajukan pada saat ujian. Saya sudah 15 tahun jadi advokat, semua permasalahan dapat dijawab dengan buku “Mengenal Hukum”. so, mas harus instropeksi diri, kalo kita tidak bisa menggunakan sesuatu jangan salahkan sesuatu itu…….

      16. Salam ..,Aku ada teman mau menanyakan gimana cara nya pengurusan surat cerai…? pokok masalah nya adalah Beliau dan Istri nya telah berpisah hampir 5 tahun lama nya ,Beliau hanya menjatuh kan THALAK 1 kepada sang Istri
        Yang Beliau ingin tanya kan ..gimana caranya pengurusan surat cerai sengan catatan beliau hanya orang yg tidak mampu dalam pengajuan ke Pengadilan Agama.Klw boleh tahu berapa kah biaya dalam pengurusan nya …?dan bagai mana prosedur nya…?Mohon jawaban nya

      17. calon suami saya duda beranak 1, mereka menikah secara khatolik dan menikah di KUA.
        Skrg ini mereka sdh pisah selama 3 thn tanpa surat cerai. Semua surat” nikah,KK, dan akta anak ada dimantan istrinya. namun keberadaan wanita itu entah dmn, karena calon suami saya meninggalkannya karena wanita itu selingkuh dan menguras habis kekayaan calon suami saya. sedangkan anaknya ada d orang tua wanita tsb. sekarang kami akan mengusut surat perceraian mereka.
        apakah calon suami saya bisa menggugat istrinya tanpa surat” lengkap ??
        berapa lama proses perceraian sesuai masalah tsb??
        Apakah kami dapat menikah secara resmi secara budha dan sah hukum ?
        wanita itu berhak menuntut apa saja ??
        Terima kasih

      18. Simply desire to say your article is as astounding. The clearness for your post is just spectacular and that i can suppose you’re a professional in this subject. Fine along with your permission let me to seize your feed to keep updated with approaching post. Thanks a million and please continue the enjoyable work.

      19. pertanyaan : Apakah perkawinan menggunakan Buku nikah Aspal sah menurut UU Perkawinan? dan apakah suami bisa menuntut si istri apabila istri kawin dgn laki2 lain, sementara suami tdk mau menceraikan perkawinan tsb? dan apakah laki2 yg menikahkan istrinya dpt dituntut si suami tsb?

      Leave a Reply

      Fill in your details below or click an icon to log in:

      WordPress.com Logo

      You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

      Twitter picture

      You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

      Facebook photo

      You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

      Google+ photo

      You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

      Connecting to %s