desktop

TOEFL : Belajar, Belajar dan Belajar!

Sejak beragung dalam group LPDP Pra PK dan PK 2016 di Telegram, ada suatu inisiatif yang menarik yaitu dengan usul sendiri teman teman seangkatan batch 1 tahun 2016 hendak menyusun Antologi Perjalanan LPDP tahun 2016. Masing masing peserta diharapkan untuk mengumpulkan tulisan mengenai persiapan dan proses LPDP masing masing. Saya menulis tentang belajar TEOFL. Adapun esai yang saya kirim ke panitia adalah sebagai berikut dibawah ini.

Perkenalkan nama saya Mujiburrahman, saya merupakan awardee BPI LPDP untuk Batch 1 tahun 2016. Rencana ke negara tujuan New Zeland dan sekolah PhD in Law khususnya untuk Hazard and Disaster Management.  Kenapa di New Zealand?  Karena sama sama merupakan negara kepulauan, sama sama kehidupan masyarakat di ancaman oleh bencana alam baik gempa bumi tsunami, banjir, longsor dan letusan gunung api. Selain itu, merupakan negara barat yang menghormati hak hak masyarakat adat yaitu bangsa Maori. Saya ingin belajar tentang kebijakan berkaitan dengan bencana, saya ingin belajar tentang masyarakat yang tinggal didaerah rawan bencana dan terkahir saya ingin belajar langsung dari masyarakt adat yang diberi pengakuan penuh oleh negara. Hal itulah yang saya inginkan untuk bisa diterapkan di Indonesia. Sebelum panjang lebar yang penting kita bahas apa yang dianggap paling berat persyaratan untuk LPDP. Apa itu? Yes… TOEFL. Makanan macam apa itu? Bagaimana mendapat nilai Ibt Toefl di atas 100?

Hal yang menarik saya ceritakan di sini dan bisa bermanfaat bagi teman teman adalah bagaimana saya mempersiapkan diri menghadapi test TEOFL. Pertama-tama, saya ingatkan bahwa tidak ada tips, tricks maupun cheats dalam ujian TEOFL yang ada hanya belajar belajar dan belajar.  Hal yang bodoh dilakukan apabila anda hanya menerapkan sistem kebut semalam. Itu mustahil untuk mendapatkan nilai toefl yang bagus. Saya jamin itu. Apa itu TOEFL? Test of English Foerieng Language atau kemampuan bahasa asing. Pada tanggal  12 Desember 2015 saya ujian di Internatinional Test Center, Plaza Sudirman. Harus bayar Rp. 2.6 juta kalau gak salah, benar sekali teman teman, itu biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, kita tidak boleh gagal. Harus berhasil diatas nilai 100 untuk iBT yaitu Internet Based Teofl.  Saya persiapan test toefl selama satu bulan penuh, belajar sendiri di rumah lebih dari 8 jam per hari. Sampai nangis, keringatan dan muntah muntah. Ada yang bilang “no pain no gain” maka saya merasakan “pain” waktu itu dengan harapan “gain” nya maksimal.  Saya hanya bermodal buku toelf  yang dikeluarkan oleh Barons, ETS, princeton and collins. Kalau di hitung mungkin itu menghabiskan biaya lebih dari 1 juta sendiri.  Namun saya percaya harus “all out” agar kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan dan kita perjuangkan dan kita doakan. Rajin ke gramedia dan cari toko buku online.  Dalam artikel ini saya akan cerita 4 bahan yang harus disiapkan yaitu Reading, Listening, Speaking dan Writing. Terus terang saya agak malu untuk menyatakan bahwa nilai reading saya di TEOFL adalah buruk. Tidak ada peningkatan sama sekali sejak 5 tahun lalu tetap sama. Saya tidak tahu kenapa kalo reading sepertinya semua jawaban itu bener. Mungkin harus ganti kaca mata. Untuk reading intinya saya menjawab semua soal dalam semua buku selama 1 bulan. Yaitu 8 test modul Baron, 3 test modul ETS, 2 test modul Collins and 1 test modul Princeton kalau tidak salah. Itu bisa dihitung lebih dari 30 soal x 15 test. Itu banyak sekali bahan bacaan.

Untuk listening saya mendengarkan juga semua bahan listening modul test, sampai telinga jadi panas pakai headset seharian. “Just press play and keep on answering” Untuk listening saya merasakan cukup percaya diri karena selama 8 tahun bekerja di organisasi international seperti International Federation for Red Cross and Red Crescent (IFRC) and juga di Japan International Cooperation Agency (JICA) . Bahsa Inggis sudah menjadi makanan sehari-hari,  karena penggunaan bahasa Inggris sebagai working language di kantor. Yang penting 16 test soal listening dicoba semua biar tahu rasa soal listening seperti apa. Kalau sudah mengikuti sampel test 15 kali pasti sudah mulai hapal dengan jawabannya karena sudah terbiasa. Pengalaman adalah guru terbaik.

Berikut adalah test speaking, Ada dua macam speaking test yaitu yang bebas dan yang berkaitan dengan teks bacaan maupun kuliah beserta diskusi kelompok di kelas. Untuk ini saya membaca pertanyaan dan dikuti oleh buka jawaban di bagian belakang buku. Saya membacanya sambil merekam dengan webcam di depan laptop. Saya mencoba latihan speaking di depan webcam. Hasil lebih dari 30 video yang dibuat dengan durasi 2 minit untuk setiap videonya. Dari situ kita play ulang dan mencoba untuk mendengarkan jawaban kita kembali dan check apakah kita mudah dipahami. Pada dasarnya untuk speaking sudah percaya diri karena biasanya juga sering bicara di depan umum dalam workshop, seminar dan conference pakai bahasa Inggris di dalam dan  luar negeri. Selain itu, sejak SMA sudah aktif dengan English Debate Society dan mengikuti banyak lomba debat bahasa Inggris tingkat nasional seperti Indonesian Varsities English Debate (IVED), Java Overland English Debate dan ASEAN Law Student Association  English-competition (ALSA Ecomp). Selain itu, sering mengikuti lomba speech competitions waktu SMA sampai wisuda mahasiswa. Experience to Speak up is the best preparation.

Akhirnya bagian writing, bagi saya writing adalah hal yang paling penting, karena saya merupakan calon PhD. in Law dimana tuntutan untuk bisa menulis dalam bahasa inggris menjadi sangat penting. Minimal untuk masuk Ph.D in Law khusus untuk writing adalah 25 per 30. Untuk persiapan writing saya hanya menulis kembali semua jawaban tertinggi yang menjadi sample jawaban dan contoh yang baik. Saya tulis lebih dari 30 artikel biar jari jari saya terbiasa ketik dengan jawaban yang diingingkan oleh penguji. Setelah 30 esai yang ditulis kita bisa melihat pola dalam kalimat dan paragraf. Disana kita belajar tentang cara membuat struktur kalimat yang diinginkan.   Demikianlah ulasan saya tentang pengalaman TOEFL. Untuk persyaratan yang lain bagi saya sederhana dan cukup teknis tidak perlu saya jelaskan disini.

Pada tanggal 10 Maret 2016, 1 hari setelah Gerhana Total Matahari,  Alhamdilillah pengumuman lolos BPI LPDP. Saya berharap bahwa dengan kepercayaan dan amanah yang diberikan oleh Beasiswa LPDP yang berasal dari duit rakyat, saya pada akhirnya bisa bermanfaat untuk nusa, bangsa dan negara. Saya ingin berkontribusi kepada masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, saya ingin bekerja bersama pemerintah daerah dalam membangun Indonesia yang tangguh bencana secara bottom up, di mulai dari daerah. 7 tahun dari sekarang, Gerhana Total Matahari akan melintas Indonesia kembali pada tanggal 20 April 2023. 7 tahun dari sekarang kita sudah lulus dari program LPDP, kita sudah kembali mengabdi kepada negara memberi manfaat dan langkah nyata buat masyarakat. Semoga teman teman angkatan ini menduduki posisi yang startegis dalam membangun bangsa 5- 10 tahun kedepan, yaitu menjadi dari President RI, Wapres, Menko, Menteri , Gebenur, Bupti atau Walikota, dan posisi kepala Badan di masing masing bidang sesuai dengan keahlian dan pengetahun yang di dapatkan selama Beasiswa LPDP. Together we stand and Divided we Fall.

Demikian tulisan saya, semoga teman teman juga berhasil dalam penyusun esai dan berkontribusi kedalam ebook Antologi Batch 1 Tahun 2016.