Posted in 36 Soal Ujian

Tanya Jawab Hukum Waris (asiamaya.com)

masalah waris dapat memecahkan keluarga… tapi yang saya ingin wariskan adalah warisan yang terbaik adalah pengetahuan…

    1. 1. Mertua kami baru meninggal Mei 2000 (Nasution), meninggalkan seorang istri (istri kedua), kemudian anak perempuan (32 yang sekarang istri saya) dan anak laki-laki (32 th). Sebelumnya almarhum sudah pernah mempunyai anak (anak laki-laki) dari istri pertama (almarhumah), anak laki-laki ini sudah ada pada saat almarhum menikah dengan istri ke dua. – Siapa saja ahli waris dari mertua kami ini, apakah anak dari istri pertama termasuk ahli waris ? – Apa saja yang termasuk warisan, apakah isi rumah juga termasuk ? – Bagaimana proses pembagian warisan ini, presentase pembagian ? – Jika kami memakai notaris, berapa kami harus membayarnya ?(Jawaban)
    2. 2. Saya 6 bersaudara, misalkan: A, B, C, D, E, F. Dan saya adalah F yaitu saudara yang paling bungsu. E dan F merupakan kakak beradik yang satu Ayah dan satu Ibu, sedangkan A,B,C dan D merupakan saudara saya yang satu Ayah tetapi lain Ibu. Saudara saya yang nomor 2 atau B meninggal dunia 4 tahun yang lalu tepatnya pada tahun 1997, selama dalam pernikahan itu tidak dikaruniai seorang anak pun. Harta peninggalan saudara saya ini adalah berupa sebidang tanah kavling, satu buah mobil dan satu buah rumah yang diperolehnya sebelum beliau menikah dan semuanya atas nama kakak saya. Beliau tidak meninggalkan sepucuk surat wasiat. Adapun tanah yang dimiliki saudara saya telah dijual setelah beliau menikah dan uangnya dibelikan lagi sebidang sawah yang terletak dekat dengan rumah saudara isterinya. Sedangkan mobil yang saya sebutkan tadi sekarang sudah dijual oleh isteri kakak saya tersebut dengan alasan sering mogok dan sebidang sawah yang dibeli oleh kakak saya dari hasil penjualan tanah kavling tadi telah pula di jual oleh isterinya dengan alasan sebagai biaya untuk pengobatan kakak saya selama beliau di rawat di rumah sakit. Terakhir saya ketahui pula bahwa rumah yang ditempati oleh kakak saya semula, telah pula di kontrak kan oleh isteri kakak saya. 1. Bagaimana sebenarnya status hukum kepemilikan harta waris kakak saya itu ? 2. Kemudian tindakan apa yang sebaiknya kami lakukan jika memang kami adik beradik lebih berhak atas kepemilikan harta peninggalan kakak saya itu(Jawaban)
    3. 3. Apakah istri tidak resmi dan anak tidak resmi berhak menuntut bagian warisan? Apakah surat warisan diketik sendiri tapi ditandatangani tanpa materai dan bukan di depan notaris adalah sah ? Bila ada harta waris diluar negeri hukum mana yang berlaku ?(Jawaban)
    4. 4. Bagaimana halnya dengan hukum adat batak, apakah benar bahwa anak laki sebagai ahli waris mempunyai hak lebih besar dari anak perempuan. Apabila sebagai ahli waris perempuan merasa dirugikan apakah dimungkinkan untuk memakai hukum waris barat ? Mohon penjelasan atas hal tersebut.Hormat kami,(Jawaban)
    5. 5. Kakek dan Nenek saya berasal dari Jakarta, Agama Islam dan keduanya saat ini masih hidup dan memiliki banyak rumah sewa dan tanah di Jakarta, sedangkan Bapak saya telah meninggal (th.1985), Bapak saya adalah anak kandung kedua dari Kakek dan Nenek disamping 2 orang anak kandung lainnya masih hidup (pertama laki-laki dan ketiga perempuan). Bapak saya meninggalkan seorang istri serta 4 orang anak (2 laki-laki dan 2 perempuan). 1) Apakah dengan meninggalnya Bapak saya lebih dahulu dibandingkan Kakek, maka hak waris Bapak saya menjadi terputus sehingga tidak dapat mewarisi harta peninggalan Kakek ? 2) Apakah saya beserta adik-adik saya masih dapat warisan dari Kakek sebagai pengganti hak waris Bapak saya dan mempunyai kedudukan yang sama dengan Paman dan Bibi saya yang masih hidup ? 3) Apakah Paman dan Bibi saya yang masih hidup menutup hak waris saya beserta adik-adik saya ? 4) Bagaimana hukumnya kalau sekarang ini, ada beberapa Rumah dan Tanah milik Kakek yang sudah dialihkan kepemilikannya menjadi milik Paman dan Bibi? Mohon pencerahan, apabila dapat atau tidak dapat waris apa alasannya dan apa dasar hukumnya (hk.Islam, hk.Adat, hk.Perdata Barat), bagaimana cara perhitungannya, apa sebaiknya yang harus saya lakukan sekarang kepada Kakek beserta Paman/ Bibi saya ini berhubung sebagian rumah dan tanah telah beralih nama ke nama Bibi serta dikuasai oleh Anak-anak Bibi.(Jawaban)
    6. 6. Istri saya beragama Kristen, keturunan Tapanuli dan anak bungsu dr tujuh bersaudara ( 5 lelaki & 2 perempuan). Setahun yg lalu, kedua mertua saya telah meninggal dunia dengan meninggalkan beberapa warisan (rumah,tanah, deposito, perhiasan, dsb). Semua/seluruh dari warisan tsb dikuasai oleh Abang ipar pertama dengan alasan u/ membiayai/membantu Abang ipar yg bungsu (baru menikah) dan kakak ipar yg telah menjanda dg tanggungan 1 putri. Apakah kami dapat melakukan gugatan hukum atas kondisi tsb.(Jawaban)
    7. 7. Apa dasar hukum di Indonesia bagi pelimpahan beban hutang maupun bukan hutang (harta kekayaan yang sifatnya menambah kekayaan dalam bentuk apapun) yang ditinggalkan oleh seseorang kepada ahli warisnya. Misalnya: seseorang bernama A menandatangani perjanjian pembiayaan sewa guna usaha dan membuka rekening di perusahaan sekuritas untuk bermain saham. Pada saat meninggal, si A tersebut berdasarkan perjanjian sewa guna usaha masih mempunyai kewajiban yang harus dibayarkan sebesar Rp. 200 juta dan meninggalkan hutang sebanyak Rp. 100 juta di perusahaan sekuritas karena kalah bermain saham. Si A mempunyai istri bernama B dan 2 anak masing-masing C (laki-laki) berumur 15 tahun dan D (perempuan) berumur 20 tahun. Status kedua anak tersebut belum menikah. Apa dasar hukumnya bagi perusahaan pembiayaan dan perusahaan sekuritas untuk menagih hutang si A kepada ahli warisnya (keturunannya)?(Jawaban)
    8. 8. Sewaktu saya masih bujangan, saya membangun rumah diatas tanah milik orang tua saya. Setelah saya dan saudara-saudara saya menikah, terjadi ketidakcocokan antara orangtua, dan saudara-saudara (kakak maupun adik saya) karena rumah tersebut saya tinggali bersama isteri dan anak-anak. Rumah itu akan saya jual dan hasilnya akan saya bagi dua dengan pembagian separuh untuk orangtua dan separuhnya untuk saya. Apakah pembagian tersebut cukup baik dan adil ?(Jawaban)
    9. 9. Orang tua saya (masih hidup) mempunyai tanah sawah yang sudah bersertifikat (hak milik) atas nama orang tua saya. Sekarang tanah tersebut digugat oleh pihak ketiga (X), dengan alasan bahwa tanah tersebut milik orang tua X (sudah meninggal) ,dengan bukti-bukti jaman Jepang. Menurut X, orang tuanya tidak pernah mengalihkan hak atas tanah tersebut, bahkan X mempunyai bukti di bawah tangan (jaman jepang) bahwa tanah tersebut sebenarnya tanah X untuk bagi hasil termasuk dengan orangtua saya. Sedangkan bukti yang ada pada orang tua saya, adalah akta jual beli tanah antara orang tua saya dengan B, sedang B memperolehnya dari A. Artinya orang tua saya membelinya dari B, yang tidak ada hubungan sama sekali dengan X. Orang tua saya sudah dipanggil ke Pengadilan, tetapi tidak bisa hadir karena cucunya kecelakaan. Disamping itu, dalam gugatannya X menyebutkan/menyatakan bahwa sudah berkali-kali menghubungi orang tua saya, padahal dalam kenyataannya, tatap muka saja tidak pernah (bahkan selama lebih kurang 20 tahun terakhir), nama A saja orang tua saya baru tahu dari surat panggilan Pengadilan 1. Apakah benar gugatan X terhadap orangtua saya, dasar hukum apa yang bisa saya gunakan untuk menolaknya. 2. Sampai berapa kali -karena musibah- orang tua saya dapat menghindari pengadilan.  3. Dapatkah orang tua saya menuntut X secara pidana dengan alasan pencemaran nama baik. Artinya X akan kami laporkan ke polisi dengan dasar bukti pernyataan palsu tersebut. 4. Kalau bisa menuntut X, apakah sudah bisa dijalankan sebelum pengadilan gugatan dilakukan. (Jawaban)

      waris memang ribet… met menikmati soal ujiannya