JICA Latih Warga Moyag Bersatu jadi Desa Tangguh Bencana

Kotamobagu, Badang Penanggulangan Bencan Daerah Kota Kotamobagu dengan Bekerjasama Japan Internationl Cooperation Agency, menggelar simulasi bencana banjir bandang di Desa Moyag bersatu (MOyag Induk, Todulan dan Tampoan), Kemarin.

Desa Moyag bersatu dipilih sebagai “desa tangguh bencana” karena merupakan daerah yang dianggap rawan bencana. Warga yang mengikuti simulasi itu sebelumnya dibekali dengan pengetahuan tentang bencana, tanggap darurat bencana dan tindakan yang harus dilakukan bila terjadi bencana.

Simulasi bencana yang juga melibatkan tim SAR KK tersebut diawali dengan teknis peringatan dini, proses evakuasi, pengungsia termasuk teknis mendirikan tenda dan tindakan medis di lokasi pengungsian.

Miki dari pihak JICA usai simulasi mengaku senang karena simulasi tersebut berjalan dengan baik sesuai dengan prosedur. Dia berharap, masyarakat bisa menerapkan pengetahuan yang didapat tersebut bila terjadi bencana.

Sementara itu, Sekretaris BPBD Ir. WAyan Dharma berterima kasih kepada JICA karena di Sulawesi Utara hanya dua desa yang terpilih yaitu di Kabupaten Sitaro dan Kotamobagu. Wayan berharap kerjasama ini bisa dilanjutkan di masa datang, kendati proyok JICA tersebut akan berakhir pada maret 2014 nanti.

Peran JICA sangat banyak terlebih dalam membantu pemerintah khususnya dalam penanngulangan bencana di daerah ini, Pangkasnya.

Simulasi Bencana Banjir Lahar Dingin di Kab. Kepulauan Sitaro

Laporan Pemantau Gunung Berapi di Kampung Salili, Kecamatan Siau Tengah, bahwa, Rabu (18/09) kemarin, telah terjadi letusan Gunung Karangetang. Tak hanya itu saja dari letusan tersebut Kampung Bebali yang dekat dengan gunung ‘diserang’ dengan luncuran lahan.
Akibatnya ratusan warga harus mengungsi di Kantor Bupati lantaran ancaman luncuran lahar. Sebelumnya pemerintah daerah lewat BPBD segera melaporkan ke Bupati terkait bencana tiba-tiba tersebut. Langkah pun diambil dengan melakukan evakuasi para warga yang tinggal di daerah rawan sebagai langkah memberi rasa aman.

Hal ini yang terlihat ketika simulasi penanggulangan bencana yang digulir Pemkab Sitaro hasil bekerja sama dengan sejumlah instansi terkait lebih khusus pihak PMI Sitaro dan JICA dari Jepang. Bupati Toni Supit SE MM dalam sambutan mendukung kegiatan simulasi agar rutin dilaksanakan di Sitaro.

Menurut orang nomor satu di daerah 47 pulau ini, sebagai daerah yang tergolong rawan dengan bencana lebih khusus ancaman letusan gunung berapi. Maka simulasi penanggulangan bencana seperti ini patut untuk dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat secara umum. “Dengan begitu masyarakat akan lebih memahami dan mengetahui langkahlangkah apa yang akan dilakukan ketika bencana itu datang,” ujar bupati, seraya pada kesempatan itu sempat menunjukkan peta daerah rawan bencana.
Plt Kepala BPBD Herry Lano SE MM menambahkan, program simulasi bencana ini merupakan agenda rutin dari BPBD. Di samping itu pula, telah dibuat peta daerah rawan bencana.

Menurutnya, pihak JICA akan menempatkan dua orang mahasiswa S2-nya di Sitaro yang khusus mempelajari terkait penanggulangan bencana seperti ancaman dari gunung berapi. “Selain melakukan simulasi, kegiatan dirangkai dengan kunjungan sejumlah sekolah-sekolah di Siau, sekaligus memberikan pengarahan langkah-langkah yang harus dilakukan ketika bencana itu datang,” tutur Lano.

Ketua DPRD Djibton ‘Bogar’ Tamudia Bac serta sejumlah anggota DPRD bersama dengan para pejabat teras turut hadir dari kegiatan yang terpusat di halaman Kantor Bupati tersebut.

Sumber: http://www.harian-komentar.com/berita-daerah/sitaro/13762-bebali-diserang-lahar-ratusan-warga-mengungsi.html

Counter measure for Disaster Management in Japan

Pada tanggal 18 Agustus – 2 September 2014 berkesempatan ke jepang untuk dengan tujuan:

  1. Mempelajari sistem administrasi penanggulangan bencana, dengan berkunjung ke berbagai instansi terkait di tingkat Nasional, Prefektur (setingkat Provinsi), dan Pemerintah City (setingkat Kab/Kota) serta mengamati pelaksanaan Drill Penanggulangan Bencana yang komprehensif.
  2. Mengerti secara jelas tentang peranan Pemerintah Pusat (Nasional), Pemerintah Daerah (Prefektur, City) dan Masyarakat Kota (termasuk Komunitas) untuk berbagai jenis bencana.
  3. Menggunakan pengetahuan yang diperoleh dan pembelajaran untuk kegiatan di proyek ini seperti: Pemetaan Ancaman Bahaya, RPB
    Daerah, dan Kegiatan Masyarakat, sebagaimana digunakan pada kegiatan sehari-hari anda untuk mengurangi kerusakan dampak dari
    bencana di masa yang akan datang.

Pembekalan Fasilitator BNPB Desa Tangguh Bencana di Batam

Batam 14 – 19 Juli 2014 melaksanakan Pembekalan Fasilitator BNPB Desa Tangguh Bencana di Hotel Harmoni One di Batam. Upaya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membentuk desa atau kelurahan tangguh bencana merupakan bagian dari pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat.

Pembentukan ini dilakukan untuk mengurangi ancaman bencana dan kerentanan masyarakat serta meningkatkan kapasitas kesiapsiagaan yang direncanakan dan dilaksanakan oleh masyarakat sebagai pelaku utama, kata Sigit Padmono Kepala Sub Direktorat Peran Organisasi Sosial Masyarakat (Orsosmas) BNPB, Selasa (24/6).

Menurutnya, masyarakat dapat terlibat aktif dalam mengkaji, menganalisis, menangani, merencanakan, memantau, mengevaluasi dan mengurangi risiko bencana yang ada di wilayahnya, terutama dengan memanfaatkan sumber daya manusia, alam, budaya dan ekonomi, lokal demi menjamin keberlanjutan.

Pendekatan satu sektor saja belum bisa membangun ketangguhan desa secara memadai. Dengan demikian masih dibutuhkan banyak fasilitator pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kapasitas masyarakat, mengarahkan penyusunan dan pencapaian indikator-indikator desa tangguh, ujarnya.

Dia menjelaskan, kehadiran fasilitator merupakan salah satu faktor kunci dalam memfasilitasi dan mendampingi masyarakat untuk belajar mengenali pokok-pokok kebijakan maupun prosedur kerja program pemberdayaan masyarakat.

Fasilitator dapat membantu warga desa mengenali masalah kebencanaan dan pemecahannya yang dihadapi dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Mereka juga dapat menjadi jembatan yang menghubungkan aparatur pemerintah dengan masyarakat desa, jelasnya.

Pada Peraturan Kepala BNPB Nomor 1 tahun 2012 tentang Pedoman Umum Desa/Kelurahan Tangguh Bencana, setidaknya ada 20 indikator untuk menggambarkan ketangguhan desa yang dikelompokkan dalam enam aspek yakni legislasi, perencanaan, kelembagaan, pendanaan, peningkatan kapasitas serta pelaksanaan penanggulangan bencana.

pelaksanaan program ini tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu integrasi, sinergitas dan sinkronisasi penguatan dan pengembangan dari program-program pemberdayaan di desa/kelurahan yang sudah dilaksanakan oleh kementerian/lembaga, organisasi internasional, dan organisasi nasional, terangnya.

Mengenai proses rekruitmen fasilitator, Sigit mengatakan, dilakukan secara terbuka, yaitu melalui koran nasional dan website BNPB. Kemudian dilakukan seleksi administrasi sesuai dengan ketentuannya. Tahap selanjutnya dilakukan tes wawancara kepada calon fasilitator oleh tim (BNPB, BPBD provinsi dan kabupaten/kota) untuk mendapatkan jumlah dan kualitas fasilitator yang sesuai kebutuhan.

Lokasi kegiatan ini mencakup 28 provinsi, 34 kabupaten/kota dan 68 desa yang tersebar di seluruh Indonesia. Para fasilitator desa tangguh akan ditempatkan di masing-masing desa sebanyak dua orang yang akan mendampingi dan memfasilitasi masyarakat selama enam bulan, dimulai Juli sampai Desember 2014.

Terjalinnya ikatan emosional antara fasilitator desa dengan masyarakat pasca proses pendampingan akan menanamkan semangat bahwa bencana adalah urusan bersama, pungkasnya.

Sumber: http://infopublik.kominfo.go.id/read/81920/bnpb-bentuk-desa-tangguh-bencana.html

1st Annual Meeting – Japan Indonesia Disaster Management At Local Level

Diberi kesempatan kembali menjadi pembicara dalam the 1st annual meeting – Japan Indonesia Disaster Management at Local Level (JIDMALL). Di dirikan ke tahun sebagai salah satu platform untuk membagi informasi dan kerjasama untuk pendidikan penanggulangan bencana (PB).

salah satu agenda dalam diskusi adalah tentang Pengurangan Risiko Bencana dan Penanggulangan Bencana yang dilakukan oleh JICA, organisasi internasional dan pemerintah indonesia, bersama dengan Wasend yang merupakan mahasiswa jepang yang berkunjunga ke Indonesia setiap tahun untuk diseminasi pendidikan bencana di sekolah sekolah.

Melalui rapat tahunan JIDMALL, peserta dapat mendapatkan ide baru, pendidikan dan informasi yang berharga dan diseminasi program atau proyok tentang PB. berdasarkan manfaat itu, kita mencoba untuk mengadakan setiap tahun dalam saat Wasend juga berkunjung dan selama ini partisipasi peserta juga meningkat setiap tahunnya.

rapatnya dibagi menjadi 3 bagisn. Sesi pertama presentasi tentang program yang diikuti oleh Q dan A. Sesi kedua berisi dengan panel diskusi. Topik mengenai kerjasama antara pemerintah daerah dan LSm tentang penanggulangan bencana di daerah. berikut dengan dua kegiatan inovatif yang didokumentasi dan berbagai komentar dari peserta dan panelis.

Sesi terakhir adalah demonstrasi dari Wasend sebagai bagian dari upaya PRB global. kita akan membuat laporan yang akan di sampaikan ke 3rd World Conference on Disaster Risk Reduction in Sendai pada bulan Maret 2015.

Sumber: https://www.facebook.com/150311718374480/photos/a.198931390179179.49239.150311718374480/707457515993228/