Lokakarya Gabungan BNPB – JICA tentang PRBBK di INDONEsia

Dalam upaya peningkatan ketahanan komunitas terhadap bencana, BPBD mengisiasai sebuah program bernama “desa Tangguh Bencna” uamg sudah efektif dimulai thuan 2012. Maksud program ini adalh untuk memfasilitas penguatan dan pengembangan program pemberdayaan menuju desa tangguh bencana. Singeri antara program program yang telah ada di desa menjadi satu kunci utama kesuksesan program ini. Oleh karena itu, kerjasama seluruh pihak diharapkan.

Berbagai LSM, insitutsi pemerintahan dan universitas di Indonesian telah melaksankan Pennaggulangan Becnan Berbasis Komunitas (PRBBK), terkadang berkolaborasi dengan organisasi intenational. Saat ini sangatlah penting untuk mengumpulkan pempelajaran dari kegiatan kegiatan terkait desa tangguh bencana yang akan datang. Pemahaman berbagai pihak tentang konsep desa tangguh juga penting untuk pelaksanaan program yang efektif.

Tujuan dari Workshop adalah untuk sosialisasi Perka BNPB no 1 tahun 2012 tentang Desa Tangguh Bencana, untuk melaksankan kegiatan PRBBK dan untuk mendapatkan pembelajaran dari PRBBK di Indonesia.

Program dan Pembiacara:

  1. Muhtarudin (BNPB) pembukaan
  2. Miki Kodama (JICA PROJECT TEAM) Pembukaan dan pengenalan Proyek JICA Project Team untuk peningkatan kapasitas penanggulangan bencana
  3. Sigit Padmono Dewo (BNPB) Konsep Desa Tangguh Bencana
  4. Ninil Miftahul Jannah – Perkumpulan Lingkar menjaslkan model desa tangguh bencana – Proyek CBDRR – Pembelajarna dai Kelompok Lingkar
  5. Eko Teguh Paripurno dari UPN menjaslkan Perjalanan Memahami PRBBK
  6. Bevita Dwi Meditwati dari PMI menjelaskan tentang program Pertama PMI
  7. Ikputra dari UGM : Belajar dari Upaya Jepang UGM dan PRBBK, studi kasus adptasi PRBBK jepang ke konteks Indonesia (IKC & Bokomi)
  8. Irina Rafliana dari LIPI – PRBBK .. some unmistakeble lessions”..

Beberapa Pembelajaran dari Workshop ini adalah sebagai berikut:

  1. Pentingnya transfer pengetahuan ke generasi berikutnya
  2. Perlunya mempertimbangkan peningkatan penyadaran kesiapan bencana di tingkat keluarga
  3. Beberapa panduan terkait PRBBK sudah pernah disusun. Aktor PRBBK sebaiknya mempergunakan panduan yang sudah ada secara optimal, daripada membuat yang baru.
  4. Workshop berikutnya akan diadakan oleh BNPB untuk melengkapi database terkait kegiatan PRBBK yang dilaksanakan oleh berbagai aktor di Indonesia.
  5. Konsep Desa Tangguh BNPB akan dikerjasamakan dengan pihak swasta untuk mendukung keberlanjutannya

Workship KICK OFF WORKSHOP – PRBBK di Hotel Gran Puri

Program Pelatihan  Peningkatan Kegiatan Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (PRBBK) di Manado, Sulawesi Utara (10/10/2012), Staff BPBD Sulut beserta 15 kabupaten/kota mengikuti program pelatihan peningkatan kegiatan pengurangan risiko bencana berbasis komunitas (PRBBK) di Sulawesi Utara dari tanggal 10 -12 Oktober 2012 yang diselenggarakan di Hotel Gran Puri.

Kegiatan ini dalam rangka Project JICA tentang peningkatan kapasitas BNPB dan BPBD dalam penanggulangan bencana di Sulawesi Utara.  Miki Kodama memberi pengantar ke program jica dan pengantar tentang bencana.

Sesi pagi dibuka oleh Kobayashi perwakilan dari JICA dan Eny Supartini perwakilan dari BNPB Jakarta. Diharapkan pengalaman dari Jepan dan perkembangan di Indonesian tentang PRBBK bisa bermanfaat dan di terapkan di masing masing kabupaten/kota disulawesi utara.

Eny Supartini menjelaskan konsep dasar desa tangguh bencana. Dan seltelah itu para peserta melakukan diskusi kelompok tentang apa saja saja prinsip desa tangguh bencana yang paling utama.

Percy Lontoh dari PMI memulai dengan materi HVCA – PRA yang membahas  Ancaman, Kerentanan, Kapasitas.  Setiap kelompok di suruh bikin HVCA untuk masing-masing bencana yaitu Gunung Api, Tanah Longsor, Banjir dan Tsunami/ Gelombang Pasang.

Benny Usdianto dari GIZ melakukan presentasi tentang Peringatan Dini berbasis masyarakat khusus untuk masalah tsunami. Para peserta membahasa system peringatan dini untuk masing masing wilayang dan untuk berbagai macam bencana yang berbeda.

Hari terakhir dimulai dengan melakukan kegiatan Town Watching para peserta di 4 kelompok dengan tujuan menunjungi beberapa wilayah di manado yang rawan banjir. Setelah pengamatan langsung para peserta membuat peta hasil pengamatan. Hasil dijadikan dasar untuk menelaah masalah, membahas penyebabnya dan juga mencari solusi untuk masalah banjir.

Buttu Madika, Konsultan dari AIFDR melakukan pembekalan materi tentang Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) di tingkat Desa dan Rencana Aksi Komunitas(RAK). Setelah pemberian materi para peserta sibuk melakukan kegiatan diskusi kelompok untuk menyusun contoh RPB dan RAK.

Bagian terkahir workshop adalah dengan membuat Rencana tindak lanjut workshop berdasarkan 9 indikantor dalam Desa Tanggung Bencana. Para peserta harus bisa prioritaskan apa indicator yang bisa di terdapatkan dalam 1 tahun  kegiatan ke depan.

Penutupan workshop dilaksanakan oleh Hoyke Makarawung selaku kepala BPBD Sulut dan Miki Kodama selaku Ahli di bidang PRBBK dari Jepang. BPBD Sulut diharapakan melaksanakan kegiatan PRBBK agar peserta dapat mengembangkan pemberdayaan masyarkat disetiap tahapan bencana baik pra, saat  maupun pasca bencana. Semoga kegiatan ini dapat bermanfaat bagi masyarakat di seluruh Sulawesi utara.

Pelatihan PRBBK untuk Tokoh Masyarakat, Kepemimpinan Desa Tangguh Bencana di Sitaro

Di Kab. Kepulauan Sitaro, pelatihan PRBBK diadakan pada tanggal 26-27 Februari 2013. Peserta pelatihan ini adalah para Counterpart Output 4.2 dari BPBD Kab. Sitaro, Counterpart Output 4.2 dari BPBD Kabupaten/Kota lainnya (18 orang dari 9 Kab/Kota) serta 21 Kepala Desa. Pelatihan ini dilaksanakan atas kerjasama JICA Project Team, BPBD Provinsi Sulawesi Utara dan BPBD Kab. Sitaro. Sebanyak 56 pengamat & peserta mengikuti pelatihan ini.

Pelatihan ini dibuka oleh Bapak Jack Naleg, Sekretaris BPBD Kab. Sitaro, Ms. Yoko Ota dari JICA Project Team, dan Dr. V. Rompas sebagai Sekretaris Kabupaten Kepulauan Sitaro.

Isi dari pelatihan antara lain: 1. Perencanaan PB oleh Bpk. Jimmy Mokolensang dari BPBD Prov. Sulawesi Utara; 2. Konsep Desa Tangguh Bencana oleh Bpk. Dery P. Unso dari BPBD Prov. Sulawesi Utara; 3. Diskusi Kelompok – Prinsip-prinsip Desa Tangguh Bencana, difasilitasi oleh Bpk.

Mujiburrahman dari JICA Project Team; 4. Sistem Penanggulangan Bencana dan Penerapannya di Sitaro oleh Bpk. Elieser Posumah sebagai Kepala BPBD Kab. Sitaro; 5. Sejarah Bencana di Sitaro oleh Bpk. Herians Kaumbur dari BPBD Kabupaten Sitaro; 6. Hazard, Vulnerability, Capacity Assessment (HVCA) and Participatory Rural Appraisal (PRA) oleh Bpk. Percy Lontoh dari PMI Sitaro; 7. Pengenalan ‘Town Watching’ dan Pembuatan Peta Bahaya oleh Ibu Wulan Margareth dari BPBD Kabupaten Sitaro; 8. Sistem Peringatan Dini ber-Basis Komunitas oleh Bpk. Mujiburrahman dari JICA Project Team; 9. Rencana Kontinjensi oleh Bpk. Rusli Bawotong dan Ibu Winny Masala dari BPBD Kabupaten Sitaro; 10. Diskusi Rencana Aksi untuk tiap Desa.

Pelatihan PRBBK untuk Tokoh Masyarakat, Kepemimpinan Desa Tangguh Bencana di KOtamobagu

Di Kota Kotamobagu, pelatihan PRBBK diadakan pada tanggal 21-22 Februari 2013 di Hotel Ramayana. Peserta pelatihan ini adalah para Counterpart Output 4.2 dari BPBD Kota Kotamobagu, Counterpart Output 4.2 dari BPBD Kabupaten/Kota sekitarnya (12 orang dari 5 Kab/Kota) serta 11 Lurah dari 4 Kecamatan rawan bencana. Pelatihan ini dilaksanakan atas kerjasama JICA Project Team, BPBD Provinsi Sulawesi Utara dan BPBD Kota Kotamobagu. Sebanyak 60 pengamat & peserta mengikuti pelatihan ini.

Pelatihan ini dibuka oleh Bapak Saleh Zulhadji, Kepala BPBD Kota Kotamobagu, Mr. Osamu Isoda dari JICA Project Team, dan Ibu Djumati Makalag sebagai Sekretaris Kota Kotamobagu.

Isi dari pelatihan antara lain: 1. Perencanaan PB oleh Bpk. Dery P. Unso dari  BPBD Provinsi Sulawesi Utara; 2. Konsep Desa Tangguh Bencana oleh Ibu Joklin Kumokong dari BPBD Provinsi Sulut; 3. Diskusi Kelompok – Prinsip-prinsip Desa Tangguh Bencana, difasilitasi oleh Bpk.

Mujiburrahman dari JICA Project Team; 4. Sistem Penanggulangan Bencana dan Penerapannya di Kotamobagu oleh Bpk. Budi dari BPBD Kotamobagu; 5. Sejarah Bencana di Kota Kotamobagu oleh Bpk. Abdul Muis dari BPBD Kotamobagu; 6. Hazard, Vulnerability, Capacity Assessment (HVCA) Participatory Rural Appraisal (PRA) oleh Bpk. Lucky dari PMI Kotamobagu; 7. Pengenalan ‘Town Watching’ dan Pembuatan Peta Bahaya oleh Bpk. I Wayan Dharma dari BPBD Kotamobagu; 8. Sistem Peringatan Dini ber-Basis Komunitas oleh Bpk. Mujiburrahman dari JICA Project Team; 9. Rencana Kontinjensi oleh Ibu Elis Lismayani dari BPBD Kotamobagu; 10. Diskusi Rencana Aksi untuk tiap Kelurahan.

Workshop Komunitas Pertama menuju Desa Tangguh Bencana di MOyag

Tujuan dari workshop-workshop ini adalah:

  1. Meningkatkan kapasitas BPBD Kab/Kota untuk melaksanakan kegiatan PRBBK.
  2. Memberikan pengetahuan PRBBK kepada Perangkat Desa/Kelurahan dan anggota masyarakat melalui; – Penjelasan Konsep “Desa Tangguh Bencana”, Hazard, Vulnerability, Capacity mapping and analysis untuk penanggulangan risiko bencana di Desa/Kelurahan, Pembuatan Rencana Penanggulangan Bencana Desa/Kelurahan, dan Memperkuat Sistem Peringatan Dini berbasis Komunitas.

Di Desa Moyag, Kota Kotamobagu, Workshop Komunitas diadakan pada 24-25 April 2013 di Kantor Kelurahan Moyag.

Peserta pelatihan ini adalah Counterpart Output 4.2 dari BPBD Kota Kotamobagu, Pegawai pemerintah dan perwakilan masyarakat desa (50 orang). Pelatihan ini diadakan atas kerjasama JICA Project Team, BPBD Provinsi Sulawesi Utara dan BPBD Kota Kotamobagu.

Isi dari pelatihan hari ke-1 adalah: 1. Pengenalan PRBBK oleh Ibu Miki Kodama – JICA Project Team, 2. Diskusi Kelompok: RPB Desa, difasilitasi oleh Bpk. Abdul Muis – BPB Kota Kotamobagu, 3. Rencana Kontinjensi oleh Ibu Elis Lismayani – BPBD Kota Kotamobagu 4. Sistem Penanggulangan Bencana di  Sulawesi Utara oleh Bpk. Jimmy Mokolensang – BPBD Prov. Sulut 5. Konsep Desa Tangguh Bencana oleh Ibu Selvi Lemboan – BPBD Prov. Sulut, HVCA oleh Bpk. Lucky – PMI Kotamobagu

Isi dari pelatihan hari ke-2 adalah: 1. Pengenalan ‘Town Watching’  oleh Bpk. I Wayan Dharma – BPBD Kota Kotamobagu, 2. Kegiata Town Watching, 3. Pembuatab Peta Bahaya diikuti dengan diskusi kelompok dan presentasi, 4. Evaluasi workshop.